Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Potensi Kebakaran dan Pengendalian Pertumbuhan Api di Kapal Berdasarkan SOLAS

Potensi Kebakaran dan Pengendalian Pertumbuhan Api di Kapal Berdasarkan SOLAS

Potensi Kebakaran dan Pengendalian Pertumbuhan Api di Kapal Berdasarkan SOLASKeselamatan kapal tidak hanya bergantung pada keandalan mesin dan navigasi, tetapi juga pada kemampuan awak kapal untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran. Salah satu aspek penting dalam keselamatan ini adalah memahami probabilitas penyalaan (probability of ignition) dan potensi pertumbuhan api (fire growth potential) di berbagai area kapal.

Keduanya diatur dalam Konvensi Internasional untuk Keselamatan Jiwa di Laut (SOLAS), khususnya Bab II-2, yang menetapkan langkah-langkah pencegahan kebakaran di kapal. 

Artikel ini akan menjelaskan secara sederhana bagaimana peraturan tersebut diterapkan dalam sistem bahan bakar, pelumasan, dan ventilasi kapal agar risiko kebakaran dapat diminimalkan.

Apa Itu “Probability of Ignition”?

Secara sederhana, probability of ignition menggambarkan kemungkinan bahan bakar atau oli di kapal dapat menyala dan memicu kebakaran. Faktor pemicunya bisa berasal dari:

  • Bahan bakar yang mudah menguap,
  • Permukaan mesin yang bersuhu tinggi,
  • Kebocoran bahan bakar pada sistem bertekanan,
  • Atau kegagalan pada sistem pendingin dan ventilasi.

Untuk mengendalikan risiko tersebut, SOLAS mengatur berbagai ketentuan teknis yang harus dipatuhi oleh semua kapal, terutama kapal dengan mesin diesel besar seperti kapal tanker dan kapal kargo.

Aturan SOLAS tentang Probability of Ignition

1. Batasan Penggunaan Jenis Bahan Bakar

Setiap bahan bakar memiliki karakteristik flash point (suhu minimum) di mana uap bahan bakar bisa menyala jika terkena percikan api.

Menurut SOLAS II-2 Regulation 4.2.1, bahan bakar yang digunakan di kapal harus memiliki flash point minimal 60°C, agar tidak mudah terbakar pada suhu kerja normal di ruang mesin.

Namun, ada pengecualian:

  • Untuk mesin generator darurat atau pompa kebakaran, diperbolehkan bahan bakar dengan flash point tidak kurang dari 43°C.
  • Kapal yang dirancang khusus untuk menggunakan bahan bakar dengan flash point rendah (seperti LNG atau methanol) tunduk pada aturan IGF Code (International Code of Safety for Ships using Gases or other Low-Flashpoint Fuels).

Selain itu, setiap bahan bakar yang dibunker (diisi ke kapal) wajib disertai dokumen resmi bernama Bunker Delivery Note (BDN) yang mencantumkan nilai flash point dan pernyataan kesesuaian dengan peraturan keselamatan.

Flash Point Bahan Bakar Kapal

2. Sistem Tangki dan Katup Pemutus Darurat

Sistem Tangki dan Katup Pemutus Darurat

Tangki bahan bakar dan oli di kapal bisa berkapasitas ribuan liter. Jika terjadi kebocoran atau kebakaran, bahan bakar dari tangki tersebut harus bisa dihentikan secepat mungkin.

Karena itu, setiap tangki berkapasitas di atas 500 liter wajib dilengkapi:

  • Katup pemutus darurat (shut-off valve) yang bisa dioperasikan dari luar ruang mesin.
  • Sistem udara tekan (compressed air) untuk membuka atau menutup katup minimal dua kali (tiga kali untuk kapal berbendera Jepang).

Fungsi utamanya adalah menghentikan suplai bahan bakar ke area yang terbakar, sehingga api tidak semakin besar.

3. Sistem Pipa Tekanan Tinggi dan Perlindungan Kebocoran

Sistem Pipa Tekanan Tinggi dan Perlindungan Kebocoran

Pada mesin diesel, bahan bakar dialirkan dengan tekanan tinggi menuju injektor. Jika pipa tekanan tinggi ini bocor, semburan bahan bakar dapat mengenai permukaan panas dan menyebabkan kebakaran hebat.

Untuk mencegahnya, aturan SOLAS mensyaratkan:

  • Semua pipa bahan bakar bertekanan tinggi harus menggunakan sistem berjaket (jacketed piping), yaitu pipa ganda yang mampu menampung kebocoran bahan bakar di lapisan luar.
  • Dilengkapi alarm kebocoran agar awak kapal segera mengetahui adanya rembesan sebelum menimbulkan bahaya.

4. Perlindungan dari Permukaan Panas

Perlindungan dari Permukaan Panas

Salah satu penyebab paling umum kebakaran di ruang mesin adalah tetesan bahan bakar yang jatuh ke bagian mesin yang panas.

Untuk itu, pipa bahan bakar dan oli tidak boleh dipasang di atas atau dekat komponen yang bersuhu tinggi seperti exhaust manifold, turbin, atau silinder mesin. Jika penempatan tersebut tidak dapat dihindari, maka pipa wajib dilapisi isolasi tahan panas.

Permukaan yang bersuhu lebih dari 220°C harus dilindungi agar tidak menjadi titik nyala potensial.

5. Sistem Isolasi Bahan Bakar untuk Kapal dengan Beberapa Mesin

Sistem Isolasi Bahan Bakar untuk Kapal dengan Beberapa Mesin

Kapal besar biasanya memiliki dua atau lebih mesin utama. Dalam situasi darurat, setiap mesin harus bisa diisolasi dari sistem bahan bakar utama, agar kebakaran di satu mesin tidak memengaruhi mesin lainnya.

Katup pengendali bahan bakar juga harus bisa dioperasikan dari tempat yang aman dan tidak tertutup api, sehingga awak kapal tetap dapat mengontrol aliran bahan bakar dengan aman.

6. Ruang Purifier: Area dengan Risiko Tinggi

Ruang Purifier: Area dengan Risiko Tinggi

Ruang purifier adalah tempat penyaringan bahan bakar dari kotoran dan air sebelum digunakan mesin. Karena menggunakan suhu dan tekanan tinggi, area ini termasuk zona dengan risiko kebakaran tinggi.

Oleh karena itu, ruang purifier harus:

  • Terpisah dari ruang mesin utama,
  • Dilengkapi sistem deteksi kebakaran, alarm, dan pemadam tetap,
  • Memiliki ventilasi independen,
  • Serta saluran pelepasan tekanan diarahkan ke area aman agar tidak menyemprotkan minyak panas ke ruang kerja.

7. Perlindungan Tambahan di Kapal Tanker

Perlindungan Tambahan di Kapal Tanker

Kapal tanker membawa muatan minyak dalam jumlah besar, sehingga pengaturan pencegahan kebakarannya jauh lebih ketat. Beberapa sistem penting yang wajib ada di cargo pump room (ruang pompa kargo) antara lain:

  • Sistem gland shaft dan kopling fleksibel untuk mencegah kebocoran,
  • Alarm suhu dan deteksi gas untuk mendeteksi uap berbahaya,
  • Alarm ketinggian bilge untuk mengetahui jika terjadi kebocoran cairan,
  • Sistem ventilasi 20 kali per jam dengan penerangan ganda,
  • Sistem pemadam tetap (fixed fire extinguishing system),
  • Dan konstruksi double bottom sesuai MARPOL Annex I Regulation 22 untuk mencegah tumpahan ke laut.

Semua sistem tersebut bekerja untuk memutus rantai penyebab kebakaran: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas.

8. Potensi Pertumbuhan Api (Fire Growth Potential)

Selain mencegah api menyala, SOLAS II-2 Reg. 5 juga mengatur bagaimana pertumbuhan api harus dikendalikan agar tidak menyebar ke area lain di kapal.

Salah satu langkah pentingnya adalah pengendalian sistem ventilasi. Ventilasi berfungsi mengalirkan udara ke ruang akomodasi, mesin, atau tangki bahan bakar. Namun, jika tidak diatur, udara ini justru dapat mempercepat penyebaran api.

Oleh karena itu:

  • Ventilasi harus bisa ditutup dari luar ruang yang diairi, dan memiliki indikator apakah dalam posisi terbuka atau tertutup.
  • Sistem penghentian ventilasi (ventilation stopping devices) harus dapat dioperasikan dari luar area berisiko.
  • Di ruang mesin, kontrol untuk menghentikan kipas ventilasi, pompa bahan bakar, dan pompa pelumas harus dipisahkan dari sistem lain, serta tetap bisa diakses meski terjadi kebakaran.

Sebagai tambahan, kapal biasanya memiliki tombol penghentian darurat (stop button) di berbagai lokasi:

  1. Di anjungan (bridge), untuk menghentikan kipas di ruang akomodasi.
  2. Di fire control station, untuk mematikan kipas dan pompa di ruang mesin maupun akomodasi.
  3. Di switchboard utama, tersedia beberapa sistem penghentian terpusat sesuai jenis ruang.

tombol penghentian darurat (stop button) di berbagai lokasi

Pengaturan ini memastikan ventilasi tidak menjadi media penyebaran api, dan suplai bahan bakar dapat segera dihentikan jika kebakaran terjadi.


Kebakaran di kapal merupakan ancaman serius yang dapat menimbulkan kerugian besar, baik terhadap manusia, muatan, maupun kapal itu sendiri. Melalui penerapan standar internasional seperti SOLAS II-2 dan MSC Circulars, risiko kebakaran dapat dikendalikan sejak tahap desain hingga operasi kapal. Pemahaman tentang probabilitas penyalaan dan potensi pertumbuhan api sangat penting bagi seluruh awak kapal agar dapat bertindak cepat dan tepat ketika keadaan darurat terjadi.

Post a Comment for "Potensi Kebakaran dan Pengendalian Pertumbuhan Api di Kapal Berdasarkan SOLAS"

Random Posts