Ini Alasan Oli Main Engine dan Auxiliary Engine Kapal Berbeda
Mengapa Oli Main Engine dan Auxiliary Engine Kapal Berbeda - Dalam dunia permesinan kapal, sistem pelumasan memegang peranan yang sangat krusial. Tidak hanya berfungsi sebagai pelindung komponen mesin, oli juga menjadi faktor penentu efisiensi operasi, umur mesin, hingga keselamatan pelayaran. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul di kalangan teknisi maritim dan mekanik kapal adalah mengapa oli main engine kapal dan oli auxiliary engine kapal harus berbeda, padahal sama-sama digunakan pada mesin diesel.
Faktanya, perbedaan oli mesin induk dan mesin bantu bukan sekadar soal merek atau viskositas, melainkan menyangkut desain mesin, jenis bahan bakar, kondisi kerja, hingga karakter sistem pelumasan kapal secara keseluruhan. Kesalahan dalam pemilihan pelumas main engine maupun pelumas auxiliary engine dapat berdampak serius, mulai dari meningkatnya keausan, konsumsi bahan bakar yang boros, hingga kerusakan mesin dalam jangka panjang.
Artikel ini akan mengulas secara menyeluruh sistem pelumasan mesin diesel kapal, alasan teknis mengapa oli main engine dan auxiliary engine berbeda, serta panduan praktis memilih oli yang tepat sesuai kebutuhan operasional kapal.
Sistem Pelumasan Mesin di Kapal
Pada mesin diesel kapal, sistem pelumasan kapal memiliki peran vital dalam menjaga kinerja, keandalan, dan umur operasional mesin. Berikut adalah fungsi utama sistem pelumasan pada mesin kapal:
1. Mengurangi Gesekan dan Keausan Komponen Mesin
Pelumas berfungsi membentuk lapisan film oli di antara komponen mesin yang bergerak, seperti piston, crankshaft, camshaft, dan bearing. Lapisan ini mencegah kontak langsung antar logam sehingga gesekan dapat ditekan seminimal mungkin. Dengan berkurangnya gesekan, keausan komponen dapat dikendalikan dan risiko kerusakan dini pada mesin dapat dihindari.
2. Membantu Pendinginan Mesin Diesel Kapal
Selain sistem pendingin utama, oli juga berperan sebagai media pendingin tambahan. Pada mesin yang bekerja dengan beban tinggi, sebagian panas hasil pembakaran dan gesekan akan diserap oleh oli. Panas tersebut kemudian dialirkan menuju oil cooler sebelum oli disirkulasikan kembali ke seluruh sistem pelumasan mesin.
3. Menjaga Kebersihan dan Mencegah Deposit Mesin
Oli pelumas berfungsi mengangkut partikel kotoran, residu pembakaran, serta endapan karbon yang terbentuk selama operasi mesin. Kotoran ini kemudian ditangkap oleh filter oli, sehingga permukaan komponen tetap bersih. Sistem ini sangat penting untuk menjaga efisiensi kerja mesin dan mencegah terbentuknya deposit yang dapat mengganggu performa.
4. Melindungi Mesin dari Korosi Akibat Asam Pembakaran
Dalam sistem pelumasan mesin diesel kapal, oli juga berperan melindungi komponen mesin dari korosi. Pada mesin yang menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur tinggi, proses pembakaran menghasilkan asam yang bersifat korosif. Oli dengan karakteristik yang tepat mampu menetralkan asam tersebut dan membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam mesin.
Kenapa Oli Main Engine Kapal Berbeda dengan Oli Auxiliary Engine?
Perbedaan oli main engine kapal dan oli auxiliary engine kapal bukanlah kebetulan. Ada sejumlah faktor teknis yang menjadi dasar utama perbedaan tersebut, mulai dari desain mesin hingga pola operasionalnya.
1. Perbedaan Desain dan Karakter Mesin
Main engine kapal umumnya merupakan mesin diesel dua langkah (two-stroke) berkecepatan rendah yang dirancang untuk menghasilkan daya besar secara kontinu. Mesin ini bekerja pada beban tinggi dalam waktu lama, terutama saat kapal berlayar pada kecepatan jelajah.
Sebaliknya, auxiliary engine atau generator engine biasanya berupa mesin diesel empat langkah (four-stroke) dengan kecepatan menengah hingga tinggi. Fungsi utamanya adalah menghasilkan listrik untuk kebutuhan kapal, sehingga bebannya relatif lebih stabil dibanding mesin induk.
Perbedaan desain ini secara langsung memengaruhi kebutuhan pelumas. Pelumas main engine harus mampu bekerja dalam kondisi ekstrem, sementara pelumas auxiliary engine lebih difokuskan pada kestabilan operasi jangka panjang.
2. Pengaruh Jenis Bahan Bakar terhadap Oli
Salah satu faktor paling krusial dalam perbedaan oli mesin induk dan mesin bantu adalah jenis bahan bakar yang digunakan.
Main engine kapal sering menggunakan heavy fuel oil (HFO) yang memiliki kandungan sulfur tinggi. Selama proses pembakaran, sulfur akan bereaksi membentuk asam sulfat yang bersifat korosif. Kondisi ini sangat berbahaya bagi liner silinder, piston ring, dan komponen internal lainnya.
Oleh karena itu, oli main engine kapal harus memiliki Base Number (BN) tinggi untuk menetralkan asam tersebut. Tanpa BN yang memadai, risiko korosi dan keausan dini akan meningkat drastis.
Sebaliknya, auxiliary engine umumnya menggunakan marine diesel oil (MDO) atau bahan bakar rendah sulfur. Produk pembakaran yang dihasilkan jauh lebih bersih, sehingga oli auxiliary engine kapal tidak memerlukan BN setinggi oli main engine. Fokusnya lebih pada perlindungan keausan, kestabilan oksidasi, dan kebersihan sistem pelumasan.
3. Kebutuhan Pelumasan yang Berbeda
Pada main engine, terutama mesin dua langkah, terdapat sistem pelumasan silinder terpisah. Oli silinder disemprotkan langsung ke liner untuk melumasi piston dan ring, dan oli ini bersifat konsumtif karena ikut terbakar selama operasi mesin.
Karena itu, pelumas main engine harus memiliki daya detergensi tinggi untuk membersihkan residu pembakaran dan mencegah terbentuknya deposit keras.
Sementara itu, pada auxiliary engine, sistem pelumasan bersifat tertutup dan bersirkulasi. Oli tidak ikut terbakar dan digunakan berulang kali, sehingga kualitas oksidasi dan kestabilan viskositas menjadi faktor utama dalam pemilihan pelumas auxiliary engine.
4. Kondisi Operasi dan Beban Kerja
Main engine kapal beroperasi dalam kondisi yang jauh lebih berat, dengan fluktuasi beban, tekanan tinggi, dan temperatur ekstrem. Pelumas yang digunakan harus mampu bertahan terhadap stres termal tinggi serta kontaminasi dari residu pembakaran.
Auxiliary engine bekerja dalam kondisi yang lebih stabil dan terkontrol. Temperatur operasi relatif konsisten, dan interval kerja biasanya lebih pendek. Hal ini memungkinkan penggunaan oli dengan formulasi berbeda dibanding pelumas main engine.
5. Spesifikasi Viskositas Oli
Dari sisi viskositas, terdapat perbedaan yang cukup jelas. Main engine kapal umumnya menggunakan oli diesel low-speed dengan viskositas SAE 40 atau SAE 50, tergantung spesifikasi pabrikan dan jenis bahan bakar.
Sementara itu, auxiliary engine biasanya menggunakan oli dengan viskositas SAE 30 hingga SAE 40 untuk mesin medium-speed. Pemilihan viskositas ini bertujuan menjaga aliran oli tetap optimal pada putaran mesin yang lebih tinggi.
6. Interval Penggantian Oli
Interval pergantian oli juga menjadi pembeda penting dalam sistem pelumasan kapal.
Pada main engine, interval penggantian oli umumnya berada pada kisaran 250–400 jam operasi, tergantung kondisi operasi dan kualitas bahan bakar. Sementara itu, auxiliary engine dapat memiliki interval penggantian yang lebih panjang, sekitar 500–1000 jam operasi, karena kondisi kerja yang lebih ringan dan bahan bakar yang lebih bersih.
Pemilihan oli yang tepat terbukti dapat memperpanjang interval pemeliharaan hingga 20–30% dan secara signifikan mengurangi risiko kerusakan komponen mesin.
7. Risiko Menggunakan Oli yang Tidak Sesuai
Menggunakan oli yang tidak sesuai spesifikasi dapat menimbulkan berbagai risiko serius. Pada main engine, oli dengan BN rendah tidak mampu menetralkan asam, sehingga korosi liner silinder dan piston ring akan terjadi lebih cepat.
Pada auxiliary engine, penggunaan oli dengan karakteristik yang tidak sesuai dapat menyebabkan oksidasi cepat, pembentukan sludge, dan penurunan efisiensi pelumasan. Dalam jangka panjang, hal ini berdampak pada meningkatnya konsumsi bahan bakar dan penurunan umur mesin.
Perbedaan oli main engine kapal dan oli auxiliary engine kapal bukanlah sekadar rekomendasi pabrikan, melainkan kebutuhan teknis yang mutlak dalam sistem pelumasan mesin diesel kapal. Perbedaan desain mesin, jenis bahan bakar, kondisi operasi, hingga karakter konsumsi oli menjadi alasan utama mengapa pelumas main engine dan pelumas auxiliary engine harus diformulasikan secara berbeda.
Dengan memahami perbedaan oli mesin induk dan mesin bantu, teknisi maritim, mekanik kapal, dan manajer pemeliharaan armada dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam memilih oli. Hasilnya bukan hanya mesin yang lebih awet, tetapi juga operasi kapal yang lebih efisien, andal, dan aman dalam jangka panjang.


Post a Comment for "Ini Alasan Oli Main Engine dan Auxiliary Engine Kapal Berbeda"